Jumat, 11 April 2014

teori belajar

·         Teori Jean Piaget
Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan selain juga dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk melalui diferensiasi refleks bawaan tersebut. Periode sensorimotor adalah periode pertama dari empat periode. Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman spatial penting dalam enam sub-tahapan:
1.     Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama dengan refleks.
2.     Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan.
3.     Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan.
4.     Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek).
5.     Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan.
6.     Sub-tahapan awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal kreativitas.
Aspek dasar perkembangan kognitif :
1.      Asimilasi adalah proses menambahkan informasi baru ke dalam skema yang sudah ada. Proses ini bersifat subjektif, karena seseorang akan cenderung memodifikasi pengalaman atau informasi yang diperolehnya agar bisa masuk ke dalam skema yang sudah ada sebelumnya.
2.      Akomodasi adalah bentuk penyesuaian lain yang melibatkan pengubahan atau penggantian skema akibat adanya informasi baru yang tidak sesuai dengan skema yang sudah ada. Dalam proses ini dapat pula terjadi pemunculan skema yang baru sama sekali.
3.      Equilibrium, yaitu berupa keadaan seimbang antara struktur kognisinya dengan pengalamannya di lingkungan. Seseorang akan selalu berupaya agar keadaan seimbang tersebut selalu tercapai dengan menggunakan kedua proses penyesuaian di atas.
Periode Utama Perkembangan Kognitif :
1.      Tahapan Sensori ( bayi )
2.      Tahapan Praoperasional ( 2-7 tahun )
3.      Tahapan Operasional Konkret ( 7-11 tahun )
4.      Tahapan Operasional Formal ( 11 tahun keatas )
Kritik terhadap Teori Piaget :
-          Anak sudah mampu memahami konservasi dalam usia yang lebih muda dari pada usia yang diyakini
-          Mayoritas anak belum mencapai tahap operasional formal pada usia yang ditetapkan oleh Piaget.
·         Teori Lev Semyonovich Vygotsky
Lev Vygotsky berbeda dengan konstruktivisme kognitif Piaget, konstruktivisme sosial yang dikembangkan oleh Vygotsky adalah bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan sosial maupun lingkungan fisik. Inti konstruktivisme Vygotsky adalah interaksi antara aspek internal dan eksternal yang penekanannya pada lingkungan sosial dalam belajar. Konstruktivisme adalah suatu teori belajar yang mempunyai suatu pedoman dalam filosofi dan antropologi sebaik psikologi. Pedoman filosofi pada teori ni ditemukan pada abad ke-5 sebelum masehi. Ketika Socrates memajukan pemikiran dari level sophist oleh metode perkembangan sistematis yang ditemukan melalui gabungan antara pertanyaan dan alasan logika. Metode baru ini yang mengkontribusi secara besar-besaran untuk memajukan aspek pemecahan masalah aliran konstruktivisme.
Ada empat prinsip dasar dalam penerapan teori Vygotsky yaitu:
1.      Belajar dan berkembang adalah aktivitas social dan kolaboratif
2.      ZPD dapat menjadi pemandu dalam menyusun kurikulum dan pelajaran
3.      Pembelajaran disekolah harus dalam konteks yang bermakna, tidak boleh
4.      dipisahkan dari pengetahua anak-anak yang dibangun dalam dunia nyata mereka
5.       Pengalaman anak diluar sekolah harus dhubungkan dengan pengalaman mereka disekolah.
Pembelajaran berdasarkan scaffolding yaitu memberikan ketrampilan yang penting untuk pemecahan masalah secara mandiri, seperti diskusi dan praktek langsung. Zone of Proximal Development adalah wilayah dimana anak mampu untuk belajar dengan bantuan orang yang kompeten. Batas ZPD yang lebih rendah ialah level pemecahan masalah yang di capai oleh seorang anak yang bekerja secara mandiri. Dan batas yang lebih tinggi ialah level tanggung jawab tambahan yang dapat di terima oleh anak dengan bantuan seorang instruktur yang mampu.
Penilaian belajar dilakukan dengan menggunakan cheklist, review, atau pertanyaan. Sedangkan penerapan teknologi untuk belajar adalah dengan pemakaian visualisasi, contoh grafis, pengalaman dunia nyata yang terkait dengan kebutuhan siswa.
Tujuan pendidikan menurut teori belajar kognitif adalah :
1.      Menghasilkan individu yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan.
2.      Kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi untuk memungkinkan pengetahuan dan ketrampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik.
3.      Peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya
·         Teori Joy Paul Guildvord
Teori Guilford banyak membicarakan struktur intelegensi seseorang yang banyak mengarah pada kreativitas. Guilford melakukan penelitian tentang kecerdasan ini dengan meneliti orang-orang genius. Ia mencoba memahami cara kerja fungsi mental para pemimpin dan tokoh – tokoh yang berhasil mengetengahkan ide-ide cemerlang. Teori Guilford menerangkan tentang inteligensi yang diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam menjawab melalui situasi sekarang untuk semua peristiwa masa lalu dan mengantisipasi masa yang akan datang. Dalam konteks ini maka belajar adalah termasuk berpikir, atau berupaya berpikir untuk menjawab segala masalah yang dihadapi.Konsepnya memang kompleks, karena setiap masalah akan berbeda cara penanganannya bagi setiap orang. Untuk itu diperlukan perilaku cerdas/inteligen, yang tentu sangat berbeda dengan perilaku noncerdas/inteligen. Yang pertama (perilaku cerdas/inteligen) ditandai dengan adanya sikap dan perubahan kreatif, kritis, dinamis, dan memiliki motivasi, sedangkan yang kedua keadaannya sebaliknya. Pengertian kebiasaan juga mengandung arti kebiasaan kreatif, bukan kebiasaan pasif reaktif (mekanis) seperti pada pandangan kaum behavioris.
Kemampuan berfikir divergen dikaitkan dengan kreativitas ditunjukkan oleh beberapa karakteristik berikut:
1.      Fleksibilitas, yaitu kemampuan untuk secara bersamaan mengusulkan berbagai pendekatan untuk masalah tertentu.
2.      Orisinalitas, yaitu kemampuan untuk memproduksi hal baru, ide-ide asli.
3.      Elaborasi, yaitu kemampuan untuk melakukan sistematisasi dan mengatur rincian ide di kepala dan membawanya keluar.
Model struktur intelektual (SI) diilustrasikan oleh Guilford dalam bentuk sebuah kubus dengan masing-masing dimensi mewakili faktor-faktor intelektual yang bersesuaian satu sama lain. Dimensi-dimensi tersebut ialah:
1.      Dimensi Konten/Isi 
2.      Dimensi Produk
3.      Dimensi Operasi
Kelebihan-kelebihan teori inteligensi Guilford:
1.      Teori ini memberikan implikasi yang penting bagi teori psikologi umumnya, terutama apabila dapat meletakkannya sebagai suatu kerangka pemikiran guna memperoleh pandangan baru terhadap konsep-konsep psikologi, seperti proses belajar, pemecahan masalah dan kreativitas.
2.      Dalam pembelajaran, teori ini memberikan implikasi positif berupa pembelajaran yang kreatif.
3.      Model Guilford ini memberikan suatu jalan untuk mengorganisasikan kemampuan-kemampuan dalam kurikulum, terutama pada penentuan kemampuan-kemampuan mana yang perlu mendapat perhatian.
4.      Teori ini merupakan mata rantai studi inteligensi dengan menggunakan pengetahuan tentang belajar, psikolinguistik, pikiran dan sebagainya sebagai pembagian tugas intelektual.
5.      Teori ini meliputi bidang-bidang fungsi intelektual yang terlokalisasi dengan sedikit sekali terwakili oleh tes-tes inteligensi standar. Sebagai contoh, banyak tes-tes inteligensi yang hanya mengukur pemikiran konvergen yang hanya memiliki jawaban yang benar.
6.      Teori ini mendapatkan penerimaan luas dari para pendidik dan beberapa pihak yang memiliki pandangan kurang menyenangkan terhadap faktor ‘g’ Spearman.
Kelemahan-kelemahan teori inteligensi Guilford:
1.      Teori ini dianggap terlalu berlebihan/kompleks dan melanggar aturan parsimony.
2.      Kemampuan-kemampuan inteligensi dalam teori ini belum seluruhnya dapat dibuktikan secara empiris.
3.      Guilford menggunakan metode rotasi ortogonal, meskipun data dan penelitian sebelumnya jelas menuntut rotasi miring (oblique)
4.      Beberapa ahli tidak dapat mereplikasi hasil Guilford pada analisis ulang, mendorong
mereka mempertanyakan reliabilitas instrumen itu. Meskipun pada tahun 1985 Guilford merevisi model SOI untuk mengatasi kekurangan ini.